Shifting!


Apa itu God's Values?

Apa saja nilai-nilai yang dihidupi Kristus?

My Priority Is Shifting
God's Values
Bukan performance.
Bahkan bukan keluarga.

Hari Sabtu kemarin sekitar jam 1.30 pm, tiba-tiba cici call dan info kalau kondisi mama drop.

Posisi saat itu aku baru sampai GS, mau makan siang, dan sebenarnya udah punya planning mau ngebolang ke mana aja. Udah lama gak ke daerah GS BSD, pikirku mumpung ada yang mau nemenin dan nganterin kan.

Ketika video call, kita nawarin mama mau ke Surabaya atau enggak. Tumben, tanpa pakai perlawanan, mama langsung mau ke Surabaya dan mau ke rumah sakit.

Awalnya aku masih baik-baik aja. Saat itu sebenarnya juga belum ada instruksi atau kondisi yang mengharuskan aku ambil keputusan: pulang Surabaya atau enggak?

Tapi jujur aja, nasi campur Amin 333 yang terakhir kali kumakan rasanya enak banget, kemarin rasanya B banget. Bahkan aku ngerasa hambar.

Sembari makan, aku coba bantu apa yang bisa kubantu secara remote. Cek jadwal praktik dokternya mama, cari informasi sebagai pendukung buat make decision apakah mama sebaiknya langsung ke IGD atau ke poli kliniknya.

Di tengah-tengah lagi cek jadwal dokter sambil makan, tiba-tiba salah satu ciciku chat.

Intinya dia complain kalau semua beban kita tanggungkan ke dia dan ciciku yang satu lagi. Dia merasa selama ini dia sudah asking for help, tapi gak ada yang merespons. Especially me.

Jujur, aku sebel.

Pengen marah.

Pengen semua uneg-unegku, semua kesulitanku di sini, semua pengorbananku, semua harga yang sudah kubayar, aku buka semuanya.

Rasanya pengen banget adu-aduan siapa yang paling sengsara di antara kita.

Chat-nya akhirnya aku balas:

“Kalau aku gak menganggap kalian berharga, mama penting, aku bisa loh memilih don't care buat gak pulang. Kalau aku gak respons sinyal SOS-mu, dalam 2 bulan ini aku gak akan PP 3–4 kali JKT–SBY. Every one of us sedang membayar harganya masing-masing dengan kapasitas dan kesanggupannya menurut penilaian Tuhan. Widya yang dulu bisa secuek itu untuk gak pulang karena akan lebih memilih performance dan kariernya ketimbang keluarganya.”

Jujur, setelah ngetik itu aku malah makin males buat pulang.

Kalau bisa kabur, aku mau kabur.

Aku mau tetap enjoy sosis babi dan babi maduku. Mau enjoy cafe dan coffee yang mau aku datangi. Aku mau stay di Jakarta, Minggu gereja bareng, lunch bareng, dan CDY.

But I know my heart is not there.

Singkat cerita, aku tetap cari tiket dan decide buat terbang jam 8 pm dari Halim.

Agak rush dan bodoh?

Maybe some of you will say that.

Ketika aku info temenku kalau aku udah beli tiket pesawat, she only asked:

“Kerjaanmu gimana? Bosmu udah izinin ta?”

Widya yang dulu mungkin akan tunggu approval dulu, baru pesan tiket.

Tapi sekarang kebalik.

Bukan karena kerjaan jadi gak penting. Bukan juga karena aku merasa bisa seenaknya meninggalkan responsibility.

But I know my priority.

Aku tahu mana yang saat itu harus aku dahulukan.

Awalnya aku gak menyadari adanya shifting ini.

Sampai ayat dari sermon minggu ini ngena banget buat aku:

“Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada.”

Aku mulai refleksi.

Salah gak sih kerja keras supaya dapat penilaian baik? Supaya cepat dapat promosi? Supaya dapat bonus gede?

Enggak.

Malah Tuhan mau kita bekerja dengan bertanggung jawab dan excellence.

Tapi mungkin pertanyaan yang perlu kita refleksikan dan kalibrasikan lagi adalah:

Apa dasar dari excellence kita?

Mengapa kita mau melakukan itu semua?

Apakah hanya untuk mengejar prestasi, performance, recognition, dan pencapaian?

Atau mata dan hati kita memang sedang fokus pada Tuhan?

Aku sadar ada sesuatu yang berubah dalam diriku.

My priority is shifting.

Bisa dibilang, sekarang keluarga bagiku jauh lebih bernilai dibandingkan prestasi atau performance-ku.

Widya yang dulu mungkin akan memilih performance dan karier. Widya yang sekarang bisa beli tiket bahkan sebelum approval dari bos turun karena tahu ada sesuatu yang lebih penting yang perlu didahulukan.

Sounds good, right?

Tapi ternyata Tuhan belum selesai mengkalibrasi hatiku.

Karena akhir-akhir ini aku mulai sadar:

Tanpa kusadari, hatiku mulai kuarahkan kepada keluarga—bukan kepada Tuhan.

Dan sesuatu yang baik pun, ketika mengambil tempat Tuhan, tetap perlu dikalibrasi.

Beberapa kali aku dibuat gelisah. Pengen resign. Pengen pulang for good. Apalagi setiap melihat kondisi di rumah yang keteteran.

Rasanya solusi paling gampang adalah:

“Yaudah, aku pulang aja.”

Tapi untuk saat ini, rasanya itu bukan keputusan yang wise.

Karena kalau aku pulang sekarang, aku mulai mempertanyakan motivasiku sendiri.

Am I obeying God, or do I just want to be a superhero for my family?

Ada bagian dalam diriku yang ingin menyelesaikan semuanya. Mengambil semua beban. Memastikan semuanya baik-baik aja.

Tapi apakah itu benar-benar yang Tuhan mau?

Atau sebenarnya aku hanya sedang berusaha menjadi penyelamat untuk keluargaku?

Dan bukankah posisi Savior itu memang bukan punyaku?

Aku pun mulai sadar bahwa ketika aku selalu mengambil alih semuanya, belum tentu itu membuat keluargaku bertumbuh. Bisa jadi justru kami semua kehilangan kesempatan untuk belajar menjalani bagian dan tanggung jawab kami masing-masing.

Makanya walaupun sulit—bahkan ketika harus berantem, disalahpahami, atau dilabel egois karena dianggap memilih karier daripada keluarga—aku tetap perlu belajar membedakan:

Mana rasa bersalah, mana tuntutan manusia, mana keinginanku sendiri, dan mana yang benar-benar Tuhan mau aku lakukan.

Karena keputusan yang benar belum tentu selalu menjadi keputusan yang membuat semua orang memahami atau menyetujui kita.

Tapi di sisi lain, aku juga perlu terus bertanya kepada diriku sendiri:

“Ini benar-benar hikmat Tuhan, atau aku cuma sedang memakai nama Tuhan untuk membenarkan keinginanku sendiri?”

Dari situ aku mulai kembali ke pertanyaan awal:

Apa sebenarnya God's Values?

Apa nilai-nilai yang dihidupi Kristus?

Kolose 3:12 bilang:

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”

Compassion.

Kindness.

Humility.

Gentleness.

Patience.

Lalu dilanjutkan dengan forgiveness, love, dan peace.

Aku mulai sadar bahwa God's Values bukan sekadar daftar moral tentang apa yang boleh dan gak boleh kita lakukan.

God's Values adalah karakter Kristus yang seharusnya semakin terlihat dari cara kita merespons keadaan, memperlakukan orang, dan mengambil keputusan.

Dan kalau dipikir-pikir lagi, mungkin ujian God's Values-ku hari itu bukan cuma:

“Widya, kamu pulang Surabaya atau enggak?”

Mungkin ujiannya bahkan sudah dimulai dari satu chat yang masuk ketika aku lagi makan nasi campur.

Ketika aku merasa gak dimengerti.

Ketika aku merasa semua pengorbananku gak dilihat.

Ketika aku ingin membuktikan bahwa aku juga susah.

Ketika aku pengen balas.

Value siapa yang keluar dari responsku saat itu?

Value-ku sendiri?

Value dunia?

Atau value Kristus?

Efesus 4:32 (BIMK) bilang:

“Sebaliknya, hendaklah kalian baik hati dan berbelaskasihan seorang terhadap yang lain, dan saling mengampuni sama seperti Allah pun mengampuni kalian melalui Kristus.”

Amsal 17:9 (BIMK):

“Kalau ingin disukai orang, maafkanlah kesalahan yang mereka lakukan. Membangkit-bangkit kesalahan hanya memutuskan persahabatan.”

Dunia mungkin bilang:

“Buat apa minta maaf duluan? Kalau kamu minta maaf duluan, kamu kalah.”

Ketika disakiti, balas.

Ketika gak dihargai, tunjukkan semua yang sudah kamu lakukan.

Ketika orang lain salah paham tentangmu, buktikan bahwa mereka salah.

Tapi value Kristus sering kali berjalan ke arah yang berbeda.

Mengampuni ketika sebenarnya punya alasan untuk marah.

Mengasihi ketika orang lain sulit dikasihi.

Rendah hati ketika sebenarnya punya banyak hal yang bisa dibanggakan.

Tetap gentle ketika sebenarnya punya kemampuan untuk menyerang balik.

Dan mungkin inilah hikmat yang sebenarnya.

Hikmat bukan sekadar informasi atau pengetahuan yang kita punya. Hikmat adalah kemampuan untuk belajar melihat sesuatu dari POV Tuhan, sehingga keputusan dan tindakan kita tidak semata-mata didasarkan pada POV manusia, tetapi pada apa yang Tuhan kehendaki.

Dan ini yang akhirnya aku pelajari:

Dulu mungkin hatiku banyak diarahkan kepada performance dan karier.

Kemudian perlahan bergeser kepada keluarga.

Tapi ternyata Tuhan masih mengingatkan:

Bukan karier.

Tuhan tetap harus menjadi pusatnya.

Karena kita bisa memilih keluarga tetapi tetap digerakkan oleh ego.

Kita bisa mengejar karier tetapi melakukannya untuk kemuliaan Tuhan.

Kita bahkan bisa melakukan sesuatu yang dari luar terlihat benar, tetapi ternyata dengan motivasi hati yang salah.

So, maybe the question is not only:

“Where is my heart?”

Tapi juga:

“Whose values are shaping my heart?”

Karena pada akhirnya pertanyaannya bukan hanya apa yang paling bernilai buatku, tetapi:

Nilai siapa yang sedang kuhidupi?

Dan hari ini, ke mana aku sedang mengarahkan hati dan mataku?

Ke performance?

Ke keluarga?

Ke approval orang lain?

Ke diriku sendiri?

Atau kepada Tuhan?

Comments

Popular posts from this blog

NAVIGATING RELATIONSHIP AT WORKPLACE