Posts

HAL YANG LEBIH BERHARGA DARIPADA 1 M PERTAMA Akhir-akhir ini banyak sekali konten media sosial yang membahas 50 juta pertama, 100 juta pertama, 1 M pertama, rumah pertama, etc.  Melalui konten-konten tersebut, memang banyak orang (khususnya millenials) yang termotivasi untuk lebih giat lagi bekerja dan menabung. Namun, sayangnya tak sedikit pula para kaum millenial yang menjadi minder karena masih jauh dengan puluhan juta pertamanya.  Boro-boro 50 juta pertama, Gaji tiap bulan aja ngepres untuk bayar uang kuliah, biaya sekolah adik, dan biaya untuk orangtua . Yahh maklum generasi sandwich.  lalu bagaimana dengan aku? Ada di kelompok yang mana?  Pertama berkat celotehan-coletahan itu, aku cukup termotivasi untuk hidup hemat. Tapi, lama-kelamaan kok jadi malesin ya? Seolah-olah segala sesuatu, keberhasilan, kesuksesan itu hanya diukur oleh seberapa banyak uang yang kamu miliki.  Aku tahu dan aku paham, semua orang butuh uang. Tanpa uang manusia tidak bisa makan, tapi apakah itu artinya u
  Menunggu.... Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan untukku Saat sedang menunggu seolah aku berada di persimpangan jalan ketidakpastian Apakah akan sesuai dengan yang aku harapkan, atau justru sebaliknya? Apakah ia akan datang atau tidak?   Sembari menunggu terlintas banyak pertanyaan yang muncul Entah itu harapan maupun kekhawatiran Tidak ada yang tahu jawaban dari semua perasaan itu Hanya waktu yang bisa menjawabnya Namun, dibalik proses “menunggu” tersimpan pembelajaran yang berharga Bersabar, beriman, berserah, dan percaya pada Sang Semesta Ditengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan ini Dibutuhkan mental seorang “penunggu” Menunggu bukan berarti menjadi mati suri  Sembari menunggu, manusia harus tetap terus berusaha dan berbuat sesuatu  Tetap melangkahlah...  Walau hanya selangkah demi selangkah  Itu hal yang sudah bagus Akan tetapi,  jika hasil belum sesuai dengan apa yang diharapkan Kita harus rela kembali menunggu, hingga gap
Terima Kasih untuk Temanku, Penderitaan Tak terasa sudah lima bulan tahun 2021 berjalan.  flashback sebentar, di akhir tahun 2020 lalu Aku dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Resign atau Stay. Ya, ada beberapa alasan personal dan profesional yang membuatku mau tidak mau harus mengambil keputusan atas dua pilihan tersebut.  "lalu apa keputusan ku?" Setelah hampir 1.5 bulan mempertimbangkan plus-minus dari setiap pilihan yang ada, Aku memberanikan diri untuk maju selangkah menuju ke pilihan resign.  "Kamu gila ya?  ditengah pandemi malah milih resign? tempatmu kerja perusahaan gede loh!"  Ya, mungkin memang Aku sudah gila. Karena bagiku untuk bertahan disana sangatlah berat. Bukan hanya secara fisik tapi juga psikis.  Setiap keputusan pasti ada risikonya. Begitu pula dengan pilihan yang Aku miliki.  Tapi setidaknya Aku sangat berterima kasih pada diriku sendiri karena sudah berani melangkah maju walaupun tidak ada jaminan kehidupanku akan lebih damai jika Aku memilih

Kenapa Wajib Daftar Djarum Beasiswa Plus?

Image
 KENAPA WAJIB DAFTAR  DJARUM BEASISWA PLUS? Halo apa kabar Young Talents ? Perkenalkan nama saya Widya alumni Fakultas Psikologi Universitas Surabaya sekaligus alumni Beswan Djarum (sebutan untuk penerima Djarum Beasiswa Plus) angkatan 34 atau periode tahun 2018/2019. Tak terasa sudah hampir 3 tahun berlalu sejak pertama kali saya menjadi bagian keluarga dari Beswan Djarum. Sebagai bentuk rasa syukur saya, saya ingin meng -encourage teman-teman Young Talent untuk mendaftar Djarum Beasiswa Plus. Kenapa sih kok harus daftar, Mbak? Oke. Sebelum kita kulik lebih lanjut alasan saya kenapa sangat meng -encourage para Young Talents untuk daftar, yuk kita kenalan dulu dengan Djarum Beasiswa Plus. Kalau kita tak kenal, gimana bisa kita tertarik untuk daftar, ya kan? 😊 Djarum Beasiswa Plus Djarum Beasiswa Plus merupakan salah satu program corporate social responsibility (CSR) milik Djarum Grup. Siapa sih disini yang tidak mengenal Djarum? Kalau mendengar kata Djarum otak kita sudah me
YAKIN SUDAH PERCAYA SEPENUHNYA?  Me: Tuhan terima kasih untuk hadiahnya, aku suka banget sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku janji aku akan pegang erat-erat supaya tidak hilang.  God: Sungguh? Syukurlah. Kalau kamu bahagia aku juga bahagia.  Beberapa waktu kemudian.  God: Nak, aku punya hadiah untukmu  Me: Wah apa itu Tuhan. Mau mau mau. Pemberianmu itu selalu yang terbaik  God: Tapi kalau kamu mau menerima hadiah ini kamu harus melepaskan apa yang saat ini kamu genggam. Kamu harus membuka tanganmu lebar-lebar karena hadiah ini sangat besar.  Me: Tapi Tuhan, aku enggak mau melepaskan apa yang ada di tanganku saat ini. Aku masih suka dengan ini.  God: Nak, apa kamu percaya kalau aku tahu yang terbaik dan selalu memberikan yang terbaik untuk kamu?  Me: Iya aku percaya God: Kalau begitu, lepaskan dan buka tanganmu. Ini jauh lebih indah daripada apa yang kamu punya sekarang Me: Tapi Tuhan .....  ---- Seringkali dengan perkataan kita mudah sekali untuk mengaku percaya pada Tuhan.  Tapi
 Running My Own Race  Bagiku kehidupan itu seperti kompetisi, selalu ada pemenang dan bukan pemenang.  Salah satu standard yang sering digunakan untuk menentukan pemenang dan bukan adalah waktu atau kecepatan.  Dulu aku berpikir jika aku bisa menjadi yang paling cepat mencapai kesuksesan, maka aku akan bahagia.  Jujur, ketika orang di sekitarku berhasil lebih dulu mencapai kesuksesan, aku menjadi iri, minder, merasa gagal, dan tentunya tidak bahagia, karena aku merasa kalah, a loser.  Tapi sebenarnya, apakah saat aku bisa meraih kesuksesan lebih dulu dari orang lain aku bahagia? Iya, tapi tidak bertahan lama. Aku tidak pernah merasa aman dan tenang. Rasanya s elalu ada ketakutan  didahului orang lain. Sampai suatu kali, di tahun 2020 lalu, Tuhan memproses aku di tempat kerja.  Aku sangat bersyukur, sebagai seorang fresh graduate aku bisa mendapat pekerjaan yang notabennya cepat dan di salah satu perusahaan bergengsi di Indonesia. Banyak orang yang ingin kerja di perusahaan tersebut. J
Image
Hadiah dibalik Kegagalan Magna Cumlaude Sejak  13 tahun yang lalu aku membuat satu standard sendiri untuk pendidikanku. Entah berawal dari apa, semenjak kelas III SD aku selalu berusaha berada di peringkat 3 besar. Bagiku, pendidikan/sekolah hanyalah tentang prestasi akademik, alias nilai. Ya, hanya nilai.  Dengan pola pikir seperti itu, tentunya ketika aku tidak bisa mencapai "standar" itu aku akan merasa sebagai orang yang gagal. Aku ingat banget, saat gagal duduk di kelas favorit waktu SMP (kelas yang katanya berisi anak-anak pintar saja) aku sangat sangat sedih. Aku menyalahkan diri sendiri dan merasa bodoh banget. Padahal saat itu aku di kelas favorit kedua. Jiwa ambisiusku dalam mengejar nilai ternyata semakin hari semakin parah.  Demi memuaskan ambisi, selama 3 tahun masa SMP aku habiskan hanya untuk belajar, belajar dan belajar.  Aku selalu mengejar nilai tertinggi.  Fokusku hanya nilai, nilai dan nilai. Memang usahaku tidak sia-sia. Di tahun terakhir aku berhasil mer