BERUSAHA MERASA CUKUP Selama 1.5 bulan ini saya banyak belajar tentang berusaha merasa cukup. Cukup dalam hal apa, dalam apa saja. Pencapaian dalam hidup, pekerjaan, relasi dengan orang lain, ataupun keuangan. Dulu saya berpikir bahwa merasa cukup bukanlah hal yang terlalu baik. Karena saya menganggap cukup = puas. Kalau saya mudah merasa cukup (re: puas) maka saya hanya akan berhenti sampai disitu. Saya tidak mau berusaha lebih keras lagi. - Pemikiran saya sebelumnya. Kata cukup dalam KBBI diartikan sebagai tidak kurang, sedangkan puas berarti sudah terpenuhi. Saat merasa cukup, bisa jadi kita sudah puas tapi bisa juga belum puas. Bagi saya pribadi, saat merasa cukup saya menjadi lebih mudah untuk mensyukuri apa yang saat ini sudah ada di tangan. Berbeda dengan puas, saat merasa puas saya yakin kita akan menyudahi "perjalanan" yang sedang kita jalani. Karena kita merasa sudah mendapatkan apa yang kita mau, kita puas. Tapi apakah kita bersyukur? Bisa ...
Posts
- Get link
- X
- Other Apps
Penyakit Ketinggian Disclamer. Tulisan ini bukan merupakan karya saya, melainkan saya tulis ulang dari sebuah buku yang berjudul Facing the Giants bagian Penyakit Ketinggian, miliki Max Lucado. Saya sangat terberkati dengan buku ini, khususnya pada bagian Penyakit Ketinggian. Oleh karena itu, saya ingin membagikan karya Max Lucado ini melalui tulisan ini. Selamat membaca dan semoga terberkati. Jesus bless you. Siapa yang tidak ingin mendaki setinggi mungkin? Entah itu karir, keuangan, pendidikan, ataupun hanya sekedar mendaki gunung? Saya rasa semua orang ingin mendaki setinggi mungkin. Boleh-boleh saja Anda mendaki setinggi mungkin. Bukanlah hal yang mustahil untuk Anda dapat menanjak, berdiri atau naik jauh lebih tinggi melebihi semua orang. Namun jika Anda terlalu lama berada di ketinggian, maka dua dari panca indera Anda akan terganggu. Pendengaran akan menjadi berkurang. Suara-suara orang yang berada jauh dibawah Anda akan terdengar samar-samar. Penglihatanp...
- Get link
- X
- Other Apps
TERKADANG TIDAK BEREKSPEKTASI LEBIH MEMBAHAGIAKAN Sekitar di bulan November 2020, saya dihubungi oleh dosen pembimbing skripsi melalui pesan WA. "Widya, kamu masih mau nulis skripsimu jadi jurnal tidak?" Tanya beliau to the point "Mau banget Bu." "Fakultas akan mengadakan program IPO (initial public officer) untuk mempertemukan para penerbit, editor, dan penulis jurnal dalam satu forum. Kamu siapkan naskahnya ya, nanti akan diinfokan lebih lanjut terkait pendaftarannya." "Oke siap Bu." Balasku sekaligus berakhirnya chat kami hari itu. Sebenarnya, di bulan Maret 2020 beliau sudah pernah meminta saya untuk menulis naskah jurnal. Tapi kemalasan dan prokrastinasi lebih besar daripada niat plus bulan Mei saya diterima bekerja, terlantarlah naskah tersebut. Padahal cuma tinggal bagian latar belakang saja. Karena merasa bersalah tidak memanfaatkan waktu seproduktif mungkin, bahagia banget mendapat tawaran kedua dari beliau. Ketika mendapat taw...
- Get link
- X
- Other Apps
UMUR MANUSIA, SIAPA YANG TAHU? Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang tahu berapa panjang usianya Apakah itu 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 60 tahun, 80 tahun atau 100 tahun? Pemazmur mengatakan "masa hidup kami 70 tahun dan jika kami kuat, 80 tahun...." - Mazmur 90:10 Tapi, tidak ada seorangpun yang bisa memberi jaminan akan hidup selama 70 tahun. Tak seorangpun yang mengetahui bagaimana akhir dari "pertandingannya". Apakah dengan mengalami sakit dengan waktu yang lama atau hanya dalam sekejap mata seperti orang sedang tertidur? Tidak ada yang tahu. Dua hal yang bisa kita-manusia, lakukan. Pertama, menggunakan setiap detik nafas kehidupan yang masih kita miliki untuk selalu being the better of you, di semua aspek. Dan kedua, menyiapkan diri kita sendiri untuk menerima kenyataan atas perpisahan, entah perpisahan karna kepergian seseorang ataupun perpisahan atas kepergian kita sendiri. Berat, iya memang berat. Sedih, iya sangat sedih. Kehid...
- Get link
- X
- Other Apps
HAL YANG LEBIH BERHARGA DARIPADA 1 M PERTAMA Akhir-akhir ini banyak sekali konten media sosial yang membahas 50 juta pertama, 100 juta pertama, 1 M pertama, rumah pertama, etc. Melalui konten-konten tersebut, memang banyak orang (khususnya millenials) yang termotivasi untuk lebih giat lagi bekerja dan menabung. Namun, sayangnya tak sedikit pula para kaum millenial yang menjadi minder karena masih jauh dengan puluhan juta pertamanya. Boro-boro 50 juta pertama, Gaji tiap bulan aja ngepres untuk bayar uang kuliah, biaya sekolah adik, dan biaya untuk orangtua . Yahh maklum generasi sandwich. lalu bagaimana dengan aku? Ada di kelompok yang mana? Pertama berkat celotehan-coletahan itu, aku cukup termotivasi untuk hidup hemat. Tapi, lama-kelamaan kok jadi malesin ya? Seolah-olah segala sesuatu, keberhasilan, kesuksesan itu hanya diukur oleh seberapa banyak uang yang kamu miliki. Aku tahu dan aku paham, semua orang butuh uang. Tanpa uang manusia tidak bisa makan, t...
- Get link
- X
- Other Apps
Menunggu.... Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan untukku Saat sedang menunggu seolah aku berada di persimpangan jalan ketidakpastian Apakah akan sesuai dengan yang aku harapkan, atau justru sebaliknya? Apakah ia akan datang atau tidak? Sembari menunggu terlintas banyak pertanyaan yang muncul Entah itu harapan maupun kekhawatiran Tidak ada yang tahu jawaban dari semua perasaan itu Hanya waktu yang bisa menjawabnya Namun, dibalik proses “menunggu” tersimpan pembelajaran yang berharga Bersabar, beriman, berserah, dan percaya pada Sang Semesta Ditengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan ini Dibutuhkan mental seorang “penunggu” Menunggu bukan berarti menjadi mati suri Sembari menunggu, manusia harus tetap terus berusaha dan berbuat sesuatu Tetap melangkahlah... Walau hanya selangkah demi selangkah Itu hal yang sudah bagus Akan tetapi, jika hasil belum sesuai dengan apa yang diharapkan Kita harus ...
- Get link
- X
- Other Apps
Terima Kasih untuk Temanku, Penderitaan Tak terasa sudah lima bulan tahun 2021 berjalan. flashback sebentar, di akhir tahun 2020 lalu Aku dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Resign atau Stay. Ya, ada beberapa alasan personal dan profesional yang membuatku mau tidak mau harus mengambil keputusan atas dua pilihan tersebut. "lalu apa keputusan ku?" Setelah hampir 1.5 bulan mempertimbangkan plus-minus dari setiap pilihan yang ada, Aku memberanikan diri untuk maju selangkah menuju ke pilihan resign. "Kamu gila ya? ditengah pandemi malah milih resign? tempatmu kerja perusahaan gede loh!" Ya, mungkin memang Aku sudah gila. Karena bagiku untuk bertahan disana sangatlah berat. Bukan hanya secara fisik tapi juga psikis. Setiap keputusan pasti ada risikonya. Begitu pula dengan pilihan yang Aku miliki. Tapi setidaknya Aku sangat berterima kasih pada diriku sendiri karena sudah berani melangkah maju walaupun tidak ada jaminan kehidupanku akan lebih damai ji...